Jumat, 08 Agustus 2008

Antara Amerika dan Zionisme


Judul : The Power of Israel in USA, Zionis Mencengkeram Amerika dan Dunia

Penulis : Prof James Petras

Penerbit :Zahra Publishing House
Tahun:
Januari, 2008

Tebal: 336 hlm

Albert Einstein, fisikawan terbesar abad 20, ahli filsafat Martin Buber, dan Prof Judah L Magnes Guru Besar Universitas Hebrew Jerusalem, mereka adalah orang Yahudi. Tetapi, apakah mereka mendukung atau minimal menyetujui adanya gerakan Zionisme? Tidak, alih-alih menyetujui, mereka bahkan menolak keras keberadaan paham Zionisme ini. Para ilmuan ini berpandangan bahwa keberadaan Zionisme yang menghendaki pendirian Negara Israel di Palestina akan mengakibatkan terjadinya pertikaian dengan penduduk asli yang telah bertempat tinggal dan bekerja di sana semenjak berabad-abad. Zionisme juga akan banyak merugikan kaum Yahudi sendiri, yakni kecurigaan terhadap kaum Yahudi sebagai pemilik kesetiaan ganda dan kewarganegaraan rangkap.

Menurut Robert Garaudy, salah anggap pengeneralisasian Zionisme sama dengan Yudaisme berasal dari sejarah panjang yang dimilikinya. Zionisme pada awal pertumbuhannya sebenarnya hanyalah gerakan penganut Yudaisme yang menginginkan datangnya sang Juru Selamat kelak pada akhir zaman. Sebagaimana kedatangan Ibrahim kepada kaumnya ataupun kedatangan Musa kembali bagi kaum Yahudi. Gerakan Yudaisme (Zionisme keagamaan) ini sebenarnya hanya menginginkan sebuah pusat kegiatan spiritual yang memungkinkan tersebarnya kebudayaan dan agama Yahudi ke seluruh dunia. Namun, gerakan Yudaisme ini kemudian dimanfaatkan oleh sekelompok orang Yahudi untuk sekaligus melegitimasi berdirinya Negara Yahudi (Israel) di Palestina. Zionisme agama telah menjadi Zionisme politik.

Zionisme politik -untuk menyebut paham yang menginginkan pendirian Negara Israel ini kemudian mendapatkan dukungan melimpah dari ekonom dan politikus berdarah Yahudi yang menduduki posisi penting dalam pemerintahan di Amerika Serikat. Buku The Power of Israel in USA, karangan Profesor Petras ini menerangkan dengan gamblang semua alasan mengapa negara super power Amerika Serikat menuruti apa pun bentuk keinginan Israel. Tidak hanya pada masalah ekonomi, Petras juga menyajikan sekenario agung antara Yahudi-Zionis dan Parlemen Amerika dalam kebijakan perangnya. Perang untuk memberangus negara-negara yang dianggap mengancam kepentingan pendirian Negara Israel. Tidak mengherankan kemudian mengapa di Timur Tengah selalu ditemukan konflik dan peperangan dan mungkin juga tidak pernah bakal ada perdamaian, selama kepentingan Israel belum dianggap aman dan mapan.

Hubungan trilogi adalah kata tepat untuk menggambarkan hubungan intim dan korelasional antara Israel-Zionis, pemerintahan Amerika dan Yahudi-Zionis warga negara Amerika. Langkah tepat untuk menggambarkan hubungan ini adalah hubungan ideologis yang mengikat ketiganya. Antara Amerika Serikat, Israel-Zionis dan Yahudi Amerika memiliki keterpautan ideologis. Amerika mengusung kepentingan zionisme dalam rangka peremajaan ideologi kapitalismenya. Karena bagaimanapun Yahudi-Zionis Amerika selalu menyokong permodalan Amerika, baik sebagai kompensasi terpenuhinya kepentingan politik yang mereka inginkan ataupun karena kewarganegaraan mereka sebagai warga sah dari negara superpower ini.

Hubungan penuh kepentingan antara Amerika dan Zionisme ini secara kasat memang tidak mudah dipahami. Prof Petras, Guru Besar Emeritus Brighamton University USA ini, mensinyalir kuatnya pro-Israel dan lobi Yahudi di Amerika ini hampir menyentuh semua sektor pemerintahan. Hubungan yang telah mengakar begitu lama dan dengan bentukan sejarah panjang yang tidak mungkin dapat dipatahkan begitu saja. Ada romantisme dan rasa kepemilikan antara keduanya. Tidak aneh kemudian jika ditemukan di dalam pengambilan kebijakan Amerika Serikat dan dewan penasihat dalam lingkungan pemerintahan Amerika serikat orang-orang Yahudi atau pun Amerika sendiri yang mengusung kepentingan Zionisme.

Buku yang ada di tangan pembaca saat ini adalah karya terlengkap dari seorang pengamat politik ulung Amerika Serikat Prof Petras, Guru Besar Emeritus Brighamton University USA. Di samping menganalisis peta kekuatan Israel di USA, buku ini dilengkapi dengan peta prediksi politik Amerika Serikat ke depan.

Kelebihan dari buku ini terletak pada kajian historis-analitisnya yang menyajikan secara detail langkah-langkah antisipatif yang dapat dilakukan dalam menghadapi rongrongan Zionisme, baik melalui Israel maupun lewat kebijakan politik Amerika Serikat.

Buku ini layak mendapat apresiasi dan dibaca oleh semua kalangan tidak hanya bagi mereka yang peduli tentang fakta Zionisme, tetapi juga bagi mereka yang khawatir terhadap perdamaian dunia secara umum. [Mustatok, alumnus UIN Sunan Kalijaga, aktif di The Indonesian Famous Institute Jakarta dan Kelompok Studi Tlaga Hijau, Ciputat]

IRAN MENAMPAR WAJAH AMERIKA?


Judul Buku : Supremasi Iran Poros Setan atau Super Power Baru?

Penulis : Ali M. Anshari

Penerbit : Zahra Publishing House, Jakarta

Terbit : Cet. I, 2008

Tebal : 308 halaman.

Peresensi : Mustatho’

Siapa yang bisa memprediksikan ke mana masa depan dunia ini berkiblat? Amerika mungkin menjadi kiblat dunia saat ini, tapi bagaimana seratus tahun ke depan? john Naisbitt futurolog abad 21 yang terkenal lewat buku mega trend 2000nya (2006) membuat prediksi bahwa dunia masa depan adalah momentum kebangkitan agama.

Terlepas dari prediksi para futurolog yang ada, yang mesti dipegangi adalah aksioma yang diusung oleh setiap futurolog yang menyepakati bahwa gambaran masa depan adalah perpaduan kepingan sejarah antara masa lalu dan masa kini yang berjalan meringkih membentuk masa depan. Dari aksioma ini, seorang pemerhati pemerintahan dapat menarik benang merah untuk menilai masa depan sebuah negara. Dan sangat tepat untuk dijadikan tolok ukur untuk membandingkan masa depan dua negara yang saat ini berseturu; Iran dan Amerika.

Benar bahwa Amerika Serikat saat ini dielu-elukan sebagai satu-satunya Negara adidaya di dunia ini, pasca hancurnya Unisovyet sebagai pesaing. Kontrol terhadap duniapun sekarang berada di tangan AS. Tidak ada negara yang mampu secara bebas lepas dari kebijakan-kebijakan internasional Amerika. Tidak juga lawan bebuyutannya; Rusia, sebagai pecahan Unisovyet. Namun Amerika tidak memiliki modal sejarah besar seperti yang dimiliki Iran. Amerika adalah kepingan tanah kering yang ditemukan Cristian Columbus pada ekspedisi lautnya tahun 1497, yang hanya dihuni oleh penduduk Indian. kepulauan Indian ini kemudian dinamakan new england oleh para imigran Eropa yang kemudian mendeklarasikan kepulauannya sebagai negara moderen Amerika pada 4 Juli 1776.

Berbeda dengan Amerika Serikat, Iran mempunyai sejarah panjang yang membentuknya sampai seperti sekarang ini. Kebesaran Republik Islam Iran modern ditopang dengan kebesaran sejarahnya. Spirit inilah yang diusung generasi muda Iran, bahwa mereka adalah pewaris dari kejayaan monarki adidaya parsi masa lalu. Iran kini telah menjadi negara modern pesaing Amerika serikat dalam percaturan global. Kedaulatan Iran yang tidak bisa dibeli oleh Amerika Serikat semakin kukuh dengan kemampuannya melakukan lompatan teknologi yakni pengayaan uranium untuk program nuklirnya.

Buku Supremasi Iran Poros Setan atau Super Power Baru? karya Ali M. Anshari ini lebih lanjut mengetengahkan fakta tentang alasan AS merisaukan Iran. Di samping karena Iran adalah negara yang mempunyai cadangan minyak (sekitar 137 miliar barrel) terbesar kedua di dunia setelah Arab Saudi, juga karena kenyataan kemanjuan teknologi mencengangkan yang dimiliki Iran yang mampu melakukan pengayaan uranium untuk tenaga nuklirnya. Kenyataan ini ditambah posisi strategis Iran dalam geopolitik dunia. Iran berada di tengah-tengah antara teluk Persia dan laut Kaspia –dua kawasan energi besar dunia. Teheran lebih jauh berencana memproduksi 20.000 megawatt listrik dari pembangkit listrik tenaga nuklirnya dalam dua dekade ke depan. Posisi inilah yang sekali lagi memungkinkan negara Republik Islam Iran modern mampu menjadi pesaing AS baik dalam dominasi kebijakan politik maupun pengendali kebijakan ekonomi global.

Sebenarnya apabila ditelisik ke dalam sejarah modernisme dunia, kesadaran kedaulatan berbangsa-negara yang ada di dunia Islam, adalah dipengaruhi dan atas jasa modernisme yang ada di Barat. Termasuk Iran, merupakan salah satu negara muslim yang tidak luput dari pengaruh revolusi Barat tersebut, hal ini nampak dari konstalasi politik di Iran yang telah mengalami pergolakan yang berlangsung lama, semakin menegang terutama ketika konsep negara bangsa (nation state) mulai diterapkan di Iran. Pertarungan antara ulama dan negara yang berlangsung 200 tahun terakhir menjadi potret utama masyarakat Iran yang memberikan warna tersendiri dalam perpolitikan di Iran.

Dalam sejarah Iran modern, perjuangan melawan kolonialisme dan pembentukan negara bangsa dimulai pada masa Dinasti Pahlevi, namun benih-benih gagasan negara bangsa tersebut sudah ada sejak Dinasti Qajar. Zayar dalam bukunya Iranian Revolution; Past, Present, and Future, membagi sejarah Iran modern kedalam tiga ­periode. Pada periode pertama yang dimulai pada abad ke-18, di bawah kekuasaan Dinasti Qajar. Periode ini mencapai titik kulminasi pada revolusi konstitusional pada tahun 1906 (di bawah pengaruh revolusi Rusia tahun 1905).

Periode kedua (1908-1953) ditandai dengan banyaknya konflik di Iran antara Ulama' dan pemerintah. Pada masa inilah Iran mempunyai masa romantis dengan Amerika Serikat. Revolusi konstitusi Iran pada tahun 1953 ini adalah berkat jasa besar Britania (Inggris) dan AS. Kudeta dari Mosaddeq ke presiden Shah. Bagi AS kepentingan kudeta ini di samping karena Mosaddeq adalah orang konservatif yang tidak menguntungkan AS juga karena kepentingan global yang lebih penting. Revolusi 1953 ini memantapkan Iran pada awal perbaikan konstitusinya. Selama rezim Shah ini Iran menjadi sekutu paling manis bagi AS.

Namun, hubungan harmonis AS-Iran selama rezim Shah ini bagi rakyat Iran tidak lebih sekedar kepentingan AS. Iran menjadi Negara boneka, dieksploitasi dan ditentukan apapun kebijakan pemerintahannya yang mencapai klimaks pada masa pem­berontakan sosial yang diikuti dengan pengunduran diri Syah Reza (1926-1941). Pada tahun 1979 Revolusi Republik Islam Iran menandai ketidakpuasan rakyat Iran terhadap kepemimpinan versi AS ini. Revolusi yang dipimpin oleh Ulama’ besar Iran ini –Ayatullah Khoemaini ini berhasil menggulingkan rezim Shah dukungan AS dan mengganti sistem pemerintahan monarkhi Iran menjadi Republik Islam Iran yang dipimpin oleh para Mullah (para ulama') sebagai pimpinan utama dan seorang presiden sebagai pelaksana pemerintahannya.

Kini Iran kembali membuat dunia terbelalak. Dengan program nuklirnya, Iran seakan menampar muka pemerintahan AS dengan telak. Peran AS dalam peta teluk dan Timur Tengah tidak lagi dianggap signifikan. Khususnya karena Iran mampu membuat kemajuan yang begitu pesatnya. Pengembangan program nuklir dan pengayaan Uraniumnya serta keberanian sang presiden Mahmoud Ahmadinejad menentang segala kebijakan AS bahkan PBB. Iran bisa menjadi pemantik Negara-negara Timur Tengah untuk bersikap tegas terhadap kebijakan-kebijakan internasional. Tak pelak, Iranlah supremasi baru yang lahir dari induk semang asli Timur Tengah.

Sangat beralasan kemudian, mengapa M. Anshari dalam bukunya ini mengukuhkan bahwa Negara Iranlah satu-satunya Negara Muslim yang berani menentang arogansi AS. Iran berani mengambil sikap dengan membiayai kelompok-kelompok yang dianggap teroris oleh AS. Pasukan Hizbullah mendapat dukungan Iran dengan menyupaly semua persenjataan dan keperluan perjuangannya. Terbukti Hizbullah telah berhasil mengusir Israel dari Libanon pada tahun 2000 dan 2006. Iran pulalah yang mendukung pergerakan Hamas di Palestina.

Buku Supremasi Iran Poros Setan atau Super Power Baru? Yang ada di tangan pembaca saat ini menghadirkan liputan khusus tentang strategi Iran dalam membentuk sebuah Nasionalisme tangguh yang berpijak pada identitas murni Negara Iran. Ali M. Anshari sendri adalah seorang Profesor kajian Timur Tengah di Universitas St. Andrews Amerika Serikat. Buku ini layak di baca bagi siapapun yang ingin memahami motivasi Iran dan kebijakan luar Negeri AS di kawasan Timur tengah, di samping karena akurasi penyajian data yang ada di dalamnya, juga karena buku ini sekaligus dilengkapi dengan data histories yang melatar belakangi perkembangan Negara Iran sampai saat ini.

Mustatho’, Alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, saat ini aktif di The Indonesian Famous Institute Jakarta dan Kelompok Studi Tlaga Hijau, Ciputat.

Alamat Penulis, Jl. Legoso Raya RT. 03/07 No. 28, Pisangan, Ciputat, 15419.

No Rek. KCP BCA Bojonegoro 8640042576 a.n Mustatho’

Telp. 021 32678034 (0815 7878 5376).

Blog. http//www.mustathok.blogspot.com

Email.tatok.m@gmail.com

TEROR KEMATIAN DARI BOSTON


Judul Buku :

The Missing, Psikopat Pemuja Wanita

Penulis:

Chris Mooney

Penerbit:

Dastan Books

Tahun :

Mei 2008

Tebal Buku:

500 halaman

Kejahatan yang terjadi di dunia ini, dapat diteorisasi dengan gamblangnya bahwa semuanya berasal dari sumbu kejahatan yang ada dalam diri manusia sendiri. Sigmund Frued menyebutnya “agresi”, dan menilainya sebagai unsur pokok dalam diri manusia yang melatarbelakangi hampir semua tindak kejahatan dan kekejian yang ada di dunia ini. Teori ini tampaknya terpintal erat dengan kenyatan yang tampak nyata dengan meningkatnya akselerasi tindakan kejahatan, kekerasan, kekejian dan amoralitas akhir-akhir ini. Teori kebenaran korespondensi menyebutnya sebagai persesuaian antara gagasan dan fakta.

Larisnya novel-novel yang bertemakan kekejian, kekerasan dan ataupun kekejaman (thriller) adalah perpaduan antara kenyataan yang ada dan kontruksi pengarang untuk mereproduksinya kedalam bentuk tulis. Namun demikian sebaliknya, rekonstruksi wacana kekejian yang ada di dunia tulis, sekaligus juga bisa menyumbangkan reproduksi baru bagi tindak kekerasan. Saking banyaknya novel dan karya sastra tentang kekerasan, kekejian dan kejahatan manusia, rak-rak toko buku dan perpustakaan di seluruh dunia, hampir tidak terlewatkan tanpanya. Haruki Murakami novelis Jepang menulis novel best sellernya Kafka on the Sour, yang bercerita tentang konflik diri dari seorang anak yang disebutnya “gagak” dan Kafka sekaligus, dengan teori Oidipus complex sebagai teori dasarnya. Lisa Jackson dengan Absolute Fear, Beverly Barton dengan Killing her Sofly. Semuanya bertutur tentang detail kejahatan yang ada di dunia ini, yang tentunya oleh para penulisnya, dinilai bertolak dari keberadaan “ roh jahat” dalam diri seorang manusia.

Novel The Missing, Psikopat Pemuja Wanita, karya Chris Mooney yang ada di tangan pembaca kali ini tersaji dengan grand tema tentang “split personality” dari diri seorang anak manusia. Keterasingan jiwa ini dimulai dengan keterasingan seorang anak dari lingkungannya yang diciptakan oleh orang tuanya sendiri. Boyle, sang tokoh psikopat, dalam novel ini mengalami tindak kekerasan dan intimidasi psikologis semenjak kecil, dan berakibat pada pemumpukan memori yang membentuk karakter dirinya. Memori-memori kelam inilah yang membentuk sesosok Boyle –(Daniel Boyle) sebagai seorang Psikopat.

Semenjak saat itu, yang dimengerti oleh Boyle adalah sebuah kenikmatan yang “menyimpang”. Boyle hanya mampu merasakan kenikmatan dengan melakukan kekejaman, kekejian bahkan pembunuhan. Sebagaimana apa yang telah dilakukan oleh orang tuanya dulu padanya. Hal yang tampak agak ‘aneh’ pertama kali dirasakan menyeruap pada diri Boyle kecil seketika setelah melihat kucing peliharaannya mati di tangannya sendiri. Keanehan inilah yang dinilai sang psikopat (Boyle) sebagai kesenangan dan kenikmatan hidup. Setelahnya, berturut-turut dan menjadi daya magis untuknya adalah mencari hiburan dengan menciptakan banyak kematian dan penyiksaan. Tak luput, Boyle yang sudah menginjak remaja menghadirkan teror pada keluarganya sendiri. Ibu dan Bapaknya, serta orang-orang di keluarganya terkapar kaku silih berganti oleh tangannya.

Di Boston, ibu kota negara bagian Massachusetts, di mana Boyle hidup, belasan wanita hilang. Oleh kepolisian Boston, diidentifikasi sebagai korban penculikan. Berpuluh tahun kemudian mereka ditemukan dalam keadaan sangat mengenaskan, dengan keadaan mati dan sebagian kecil yang masih hidup. Hidup wanita-wanita ini dijadikan permainan, seperti tikus yang dikurung dalam labirin penyiksaan. Tiap perubahan yang terjadi pada mereka, sejak mulai diculik hingga mati diabadikan sipelaku dengan foto. Mereka yang masih bisa bertahan hidup ditemukan dalam keadaan sangat mengenaskan, dalam diri mereka yang tersisa tinggal tulang berbalut kulit kasar yang penuh ditumbuhi dengan bulu-bulu putih seperti layaknya binatang.

Kepolisian Boston belum juga dapat menerka motif punculikan yang terjadi. Punculikan yang nyaris sempurna dan tanpa pola. Sang penculik mampu menggiring asumsi kepolisian kepada penjahat-penjahat yang mereka inginkan. Oleh TKP –tempat kejadian perkara, selalu meloloskan mereka dengan jalan meninggalan bukti yang mengarah pada penjahat lain. Traveler –begitulah kepolisian Boston menyebut para punculik ini, menghadirkan teror kematian di seluruh kota bagian Amerika Serikat.

***

Daniel Boyle memang pemuda pendiam. Setidaknya begitulah semua tetangganya mengenal pemuda ini. Hampir tidak dapat diterima bahwa dialah yang selama ini menjadi target kepolisian Boston. Bagaimana mungkin Daniel Boyle yang adalah anak rumahan, yang untuk sekedar keluar rumah dan bertutur sapa dengan tetangga-tetangganya saja malas, melakukan tindakan-tindakan penculikan dan bahkan pembunuhan? Namun begitulah kenyataannya, dan disaksikan langsung oleh mereka sendiri, bahwa terjadi pengepungan di rumah Boyle, setelah ditemukan berbagai barang bukti (files) yang mengarah kepadanya. Boyle tewas tertembus lima timah panas dari kepolisian Boston ketika melakukan perlawanan sengit. Bahwa Boyle sang pemuda pendiam adalah sekaligus Traveler –penjahat kakap, nomor wahid, yang dicari polisi. Mampu melakukan penculikan sekaligus pembunuhan hampir di seluruh negara bagian Amerika Serikat.

Chris Mooney pengarang buku The Missing yang saat ini anda nikmati, ia adalah penulis novel yang laris secara internasional. Novel-novelnya selalu masuk nominasi best seller, di antara karyanya adalah Deviant Ways, Word Without End, Remebering Sarah, menjadi nominasi Edgar Award dan Barry Award untuk kategori novel terbaik. Dan buku ini sendiri The Missing menjadi novel pilihan Internasional Book of the Month Club. Klub internasional pecinta buku dengan 22 juta pembaca di hampir 13 negara. Buku ini diakui sebagai buku terlaris internasional yang mampu menyapu pembaca ke dalam alur dramatis penceritaan Mooney.

Novel ini layak dikonsumsi oleh siapapun, lebih-lebih mereka yang bergerak dalam penegakan hukum (polisi ataupun aparatus negara). Novel ini menyajikan prespektif lain dalam memandang tindak penculikan, menghadirkan kemungkinan-kemungkinan yang tidak terduga dalam pola kejahatan penculikan. Novel ini secara global menghadirkan pola-pola pelik tindakan kejahatan yang ada di dunia ini. Kejahatan tidak selalu hadir dalam satu wujud lumrahnya yakni kekerasan. Kejahatan bisa mungkin berbungkus manis sebagai seorang agen FBI, yang dalam novel ini ditemukan dalam personifikasi Ricard Fowler. Dan akhirnya, ketajaman pena Mooney ini menjadikan kisah ini begitu memikat, menegangkan sekaligus menyentuh.

*Mustatho’, Alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, aktivis The Indonesian Famous Institute dan Ciputat’s Writing Center (CiTiTer)..

Alamat, Jl. Legoso Raya, RT. 03/07, No. 28, Pisangan, Ciputat, 15419.

No Rek. KCP BCA Bojonegoro 8640042576 a.n Mustatho’

Telp. 021 32678034. Hp. 0815 7878 5376

Blog. http//.mustathok.blogspot.com

Email. tatok.m@gmail.com

MEMBURU CASANOVA PALSU


Judul Buku :

Killing Her Softly

Pengarang :

Beverly Barton

Penerbit:

Dastan Books

Tahun Terbit :

I, Juni 2008

Tebal Buku :

600 halaman.

Lulu Vanderley, gadis cantik, periang dan berasal dari keluarga kaya dari Mississipi ditemukan tewas di kamarnya. Sangat sedikit bukti yang dapat mengarahkan kematiannya sebagai kasus pembunuhan. Kematian Lulu sealami kematian biasa; gagal pernafasan. Bagaimana mungkin Lulu bisa dibunuh? Tidak ada seorangpun yang tidak mencintainya. Lulu Venderley adalah gadis yang menyenangkan, sahabat yang asyik dan ceria. Dalam diri Lulu yang ia kenal, tidak pernah ada sedikitpun niatan untuk sengaja menyakiti orang lain, kecuali jika kebebasan jiwa yang dimiliki Lulu untuk menjalani hidup sebebas-bebasnya dan menikmati semua kesenangan yang ada di depannya dianggap kesalahan.

Mengingat Lulu Venderley bagi Quinn Cortez adalah melihat bayangan dirinya dalam cermin. Lulu Venderley adalah penjelmaan dirinya (Quinn Cortez) dalam versi wanita. Lulu tidak pernah ditolak oleh seorang priapun, sebagaimana dirinya tidak pernah ditolak oleh wanita manapun. Lulu menikmati laki-laki sama halnya dengan ia menikmati wanita. Aturan main yang mereka jalankan juga tidak jauh berbeda. Tidak ada ikatan, setiap orang memainkan permainan yang adil. Tidak ada janji-janji dalam hubungan, apalagi cinta. Semuanya hanya dilandaskan kebutuhan biologis semata, selebihnya tidak ada. Namun kenapa justru kini kematian Lulu dituduhkan kepadanya? Dia dan Lulu yang mempunyai kesamaan aturan main?. Atau mungkinkah Lulu telah melibatkan dirinya dengan seseorang yang telah menolak aturan mainnya selama ini? Apakah seseorang telah memutuskan jika mereka tidak dapat memiliki Lulu secara eksklusif, lalu tidak ada orang lain yang dapat memilikinya?

Novel Killing her Softly karya Beverly Barton bercerita tentang sosok Casanova baru yang hadir dalam sosok Quinn Cortez, seorang pengacara ternama di Houston, yang pada akhirnya terperosok ke dalam kasus pembunuhan yang menimpa kekasihnya – tepatnya, satu diantara sekian kekasihnya yang pernah ada. Pembunuhan terhadap Lulu Venderley menjebaknya sebagai seorang tersangka utama. Pencarian pembunuh Lulu ini menyeret Quinn untuk membuktikan ketidakbersalahannya. Namun di sisi lain, wakil keluarga korban, Annabelle Venderley, sepupu Lulu, berkukuh untuk membuktikan bahwa Quinnlah pembunuhnya, dan bertekad memberikan hukuman setimpal baginya, bagaimanapun caranya.

Kehadiran Annabelle untuk menuntut balas atas kematian Lulu, tidak sedemikian berjalan mulus. Annabelle yang datang ke wilayah kepolisian Memphis tidak dibekali informasi yang cukup tentang sosok pembunuh Lulu yang oleh kepolisian wilayah Mimphis di arahkan kepada Quinn Cortez. Tak heran kebencian Annabelle kepada Quinn sebagai pembunuh sepupunya, mendadak dipertanyakan kembali seketika setelah dengan tidak sengaja justru dirinya diselamatkan oleh Quinn Cortez dari sergapan para pemburu berita. Quinn Cortez yang ada dihadapannya kini sangat berbeda dengan bayangan pembunuh yang telah ia tanamkan dalam benaknya sebelumnya. Sebagai wanita, Ia merasa apa yang oleh setiap wanita rasakan, terserap ke dalam pesona Quinn. Bahkan kalau saja Quinn tidak menjadi tersangka dalam pembunuhan sepupunya, ia merasa Quinn sangat ideal didamba oleh semua wanita, mungkin juga termasuk dirinya.

Menyusul Lulu Vanderley, satu persatu, sejumlah wanita cantik ditemukan tewas di kamar tidur mereka. Pembunuhan dilakukan dengan cara membekap korban dengan bantal, sampai mereka tewas. Setiap pembunuhan memiliki ciri yang sama, yakni jari tengah korban hilang dimutilasi. Kecurigaan kepolisian Memphis semakin mengarahkan pelaku pembunuhan pada sosok Quinn Cortez. Quinn kini bagi kepolisian adalah Casanova pembunuh, setelah identifikasi menunjukkan bahwa semua para korban ternyata adalah mantan kekasih Quinn. Apalagi ia mengaku tidak ingat apa-apa saat tiap pembunuhan terjadi.

Berpacu dengan waktu, Quinn Cortez dibantu dengan pengacaranya, Kendall Well berusaha menyingkap dan membuktikan bahwa dia tidak pantas dituduh sebagai seorang Casanova pembunuh. Setelah enam perempuan meninggal, bukti mengarahkan, pembunuhan dilakukan bukan oleh Quinn. Sang pembunuh ternyata adalah Jace Morgan, sosok imitasi dari Quinn, yang ternyata adalah anak dari Quinn sendiri. Jace hanya menginginkan pembunuhan yang dilakukannya adalah bentuk pembebasan bagi mereka, seperti Ibunya yang telah menjadi korban dari Quinn Cortez.

Beverly Barton menghadirkan novel ini dalam bentuk novel bergenre thriller romantic, sosok Quinn, sang Casanova, yang tidak pernah mengenal cinta, justru tertambat cintanya pada seorang Annabelle, yang ironisnya adalah musuhnya dalam hukum dan kasus yang ia hadapi. Beverley sendiri adalah penulis wanita best seller yang telah menghasilkan lebih dari tiga puluh novel romantis laris. Ia kerap memenangkan berbagai penghargaan, seperti Maggie Award, Reader’s Choice Award, dan Career Achievement for Series Romantic Adventure dari Romantic Times. Novel-novelnya telah terjual jutaan copy di banyak Negara.

Novel ini layak dikonsumsi siapa saja, mengingat pemakaian tulisan dalam bahasa tutur yang lugas, cerdas, dan menegangkan. Novel ini sekaligus menjadi pemantik terlahirnya karya-karya novel Beverly selanjutnya. Diilhami dengan karakter-karakter tokoh pelengkap di dalam novel ini, Baverly kemudian menghasilkan novel suspense romantisnya dengan judul Close Enough to Kill yang terilhami dari karakter Jimmi Norton, sang detektif dalam buku ini.

*Mustatho’, Alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, aktifis The Indonesia

Famous Institute dan Ciputat Writing Center (Cititer) Jakarta.

Alamat; Jl. Legoso Raya, RT. 03/07, No. 28, Pisangan, Ciputat, 15419.

No. Rek KCP BCA Bojonegoro 8640042576 a.n Mustatho’

Telp. 021 32678034. Hp. 0815 7878 5376

Blog. http//.mustathok.blogspot.com

Email. tatok.m@gmail.com